Postingan asli yg berikut ini ada di www.absurdavenue.blogspot.com
Saya posting ulang di sini karena pacar saya suka banget sama gaya nulis saya di situ. Yuk ah IHA, diidupin lagi tuh tempat nongkrong kita.
siapa yang bilang saya gay?
Hummm, *menerawang*
Kembali ke masa kecil saya,
Saya ini udik, anak kampung. Saya dekil, ngga punya banyak temen. Saya ngga ngerasa diri saya tomboy. Tapi saya akui saya ini serampangan. Cuek dengan penampilan saya. Mungkin itu yg menyebabkan orang pikir saya tomboy. Saya suka main di kali. meskipun ngga bisa berenang. Saya suka mengejar layang2. Karena itu pula kulit saya hitam. Saya pun semakin menjadi serampangan dan benar2 tidak perduli penampilan.
Saya ngga pernah tertarik sama yg namanya main boneka. Seusia saya, biasanya anak perempuan di daerah rumah saya suka main rumah2an, dan berpura2 memiliki keluarga. Jangan salah, saya pun pernah mengalami fase itu. Hanya saja, ketika itu, saya lebih suka membangun “rumah” untuk teman2 saya (perempuan).
Kamu tau, rumah yg saya maksud di sini adalah sebuah ruang yg saya bangun dengan rangka batang2 pepohonan. biasanya pohon singkong yang kokoh dan lurus. dengan atap yg saya buat dari daun pisang. Saya pilihkan yg lebar dan memiliki ruas batang yg besar agar tidak mudah tertiup angin. Dindingnya hanya saya buat dari daun pisang kering (diabav saya tulisnya daun singkong kering, odong, yg bener yg ini). Atau jika ada yg merelakan kain sarungĀ di rumahnya untuk di pinjam maka saya akan memakainya sebagai dinding buatan. Selesai. Saya akan merasa bangga jika saya bisa membangun “rumah” untuk mereka. kemudian saya tinggalkan mereka bermain berkelompok. Saya menolak aktifitas sandiwara dimana biasanya mereka saling mengundi siapa yg bertugas jadi ibu, anak, tukang gado2, tukang warung dan lain2. Saya tidak tertarik.
Sampai suatu hari, teman saya yg tinggal berdekatan dengan saya kedatangan saudara dari luar kota. Perempuan. Usia lebih tua dari saya, mungkin remaja. Saya lupa lupa ingat. Dia yg mengajak saya untuk ikut dalam aktifitas “sandiwara rumah tangga”. Awalnya saya menolak. Dia membujuk saya. Kompromi tercapai dengan hasil akhir, saya ikut main dengan peran sebagai Bapak. Dan dia sebagai Ibu. Saya menikmati peran itu. Entah kenapa.
Sejak itu, kedatangannya selalu saya tunggu. Entah sejak kapan dia tidak datang lagi. Saya pun kehilangan.
Waktu berlalu, sejak itu sosok perempuan spesial datang dan pergi dalam kehidupan saya. Saya tidak pernah berpikir kalo saya memiliki kecenderungan tertarik dengan perempuan dengan hadirnya wanita2 spesial itu. Saya hanya berpikir kalo mereka berharga buat saya dan saya ingin melindungi mereka.
Sampai pada suatu hari, ketika saya sudah selesai kuliah, saya kebetulan mengantar seorang teman dekat (perempuan) dari acara kumpul2 almamater.
Di perjalanan kami bergurau. Saya berpura2 jadi tukang ojek yang meminta bayaran. Tiba2 teman saya itu berkata, “dibayar pake cinta mau?”
Saya terpaku. Jika saja dia melihat wajah saya pada saat itu, mungkin dia akan melihat raut muka saya berubah merah. malu. deg2an. senang. berbinar. semua bercampur menjadi satu. Hhhhhh. Andai saja kamu tau, saat itu, kamu mencuri hatiku.