Jumat malam lalu, saya dan cesca ke sebuah cafe yg nyediain kopi vietnam.

Saya dateng duluan. Liat2 menu. Lagi ga pengen yg aneh2. Saya pesen hot coffee. Si pelayan berbalik melangkah. Tapi beberapa detik kemudian kembali menghampiri saya.
” Maaf mba, di sini ga ada hot coffee”
Saya bingung, jelas2 di menu ada.
” Ngga ada gimana mba? Ini di menu ada.”
Saya menunjukkan tulisan di buku menu. Memang tertera Black Hot Coffee lengkap dengan harga di sampingnya. Tapi ya maksud saya ya itu, disingkat aja.

“Oo, itu maksudnya bukan menu mba, tapi jenisnya aja. Hot coffee itu ada cappucino, espresso,gitu.”

Mata saya berputar. Bukan sekali itu saya datang ke cafe tersebut. Sebelumnya juga pernah. Dan hot coffee tersedia. Tapi saya malas berdebat.

“o gitu ya?” kata saya setengah mendongkol.
“trus yg enak apa di sini?” tanya saya lagi sok lugu
” di sini favoritnya ada black magic, ada midnigess”
“midnigess?? yang mana tuh?”
“yg ini..” dia meletakan jari telunjuknya ke sebuah tulisan di buku menu.

” Oooo, midnight express…” ujar saya setengah bertanya retorik.
” iya.”
” yaudah saya pesen yg itu dulu.”

“baik mba. Jadi pesanannya satu midnigess ya.”

O boy. Agak malas, saya mengangguk.

Ga rela bayar service charge. Sayang banget. Menurut saya, service tuh bukan cuma tentang pelayanan yg sopan dari pegawai. Tapi juga tentang pemberian informasi yg benar. Gimana mau kasih service yg bagus kalo product knowledge aja sangat minim.

Bayar service charge aja ga rela. Apalagi kasih tip.

Advertisement