[1] lindi :

Kulangkahkan kakiku ke sebuah kamar bercat putih. Kunyalakan lampu, seketika cahaya mengisi semua seluk. Kurebahkan badanku di atas spring bed yang mengisi hampir setengah dari isi ruang ini. Terlalu besar, spreinya membuat gatal, keluhku. Sudah lama juga sejak kakakku tidak kerumah, kasur ini lebih sering dihinggapi debu daripada manusia. What the hell.. Aku ingin cepat-cepat melewati malam ini.

Sebentar saja aku meringkuk, memori itu memaksa untuk dibuka lagi. Memori adegan beberapa puluh menit lalu di balik salah satu dinding kamar ini.

“Aku ga mau liat kamu pergi”,

entah sebuah permohonan atau tuntutan. Sebelum aku punya nyali untuk mencernanya aku segera meraih satu bantal berwana biru dan menyisakan satu bantal favoritku berwarna hijau untuk menemaninya malam ini.
“Selamat tidur”,

kuulaskan senyum seadanya sambil berharap dia tidak mengucapkan satu patah lagi kata dari mulutnya dan membiarkan aku melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintu untuknya. Harapanku terkabul.
Kuselipkan satu tanganku dibawah bantal, aku melipat badanku menjadi serupa bayi di dalam uterus. Mataku terpejam, mencoba menghilangkan dengungan amarah dan kesakitan itu. Ibumu memperlakukan aku seperti virus. Dan aku juga. Cairan hangat menjalar di pipiku tanpa aba-aba. Setidaknya airmataku tidak pengecut seperti aku.

**

[2] lindi :

9 tahun sebelumnya…

Kuletakkan handset hitam ke dalam dudukan chargernya. Telingaku panas. Reflek kuusapkan tanganku ke pipi yang sama basahnya. Huih, begini nih kalau habis ngobrol dengan Yaesa, ga bisa sebentar. Padahal besok bakal ketemu lagi di kampus. Kaya ga bakal ada habisnya bahan obrolan.
Aku jadi teringat pertama kali kita berkenalan. Waktu itu mata kuliah lab. komputer akuntansi 1, hari-hari pertama kuliah semester satu tingkat satu.
“Eh eh, boleh liat silabusnya ga?gw ga dapet ni”
“Eh?apa?lo ngomong sama gw ya tadi?”
Mataku yang lagi aerobik sedang mengamati suasana kelas baru tidak menangkap apa yang ditanyakan Yaesa. Sampai sekarang Yaesa masih belum bosan meledek aku yang ‘ga nyambung’ dulu. Dasar Lindi.

xxx

Angka di jam tanganku rasanya mengecil, sampai aku harus menyipitkan mataku untuk melihat waktu sekarang. Aku harus beli kacamata sepertinya. Jam 2, dosen belum datang juga. Kemana pula Yaesa?Padahal jeda waktu ini bisa dimanfaatkan buat ngobrol ga penting. Hmm..pasti dia sedang berebutan dengan mahasiswa lain buat meminjam textbook. Sungguh kusalutkan perjuangannya. Memang tak mudah buatnya untuk mengeluarkan kocek dan membeli buku kuliah seperti teman-teman sekelasnya termasuk aku. Kutaruh tas selempang biruku ke tempat duduk di sebelahku agar tidak ada yang menempati. Antisipasi saja. karena deretan belakang banyak peminatnya.
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya si dosen berjambang(an) masuk keruangan. Antara senang dan kecewa, perpaduan emosi yang aneh memang, teman-teman sekelasku, bergerak malas membuka-buka buku dan menyiapkan catatan kuliah. Tak lama, Yaesa masuk ke ruangan sambil bercengar-cengir ria di depan pak dosen yang sedang bekerja. Ia sapukan pandangannya yang kemudian tertumbuk ke kursi di sebelahku. Aksi balas reaksi, aku ambil tasku dari bangku dan serta merta ia daratkan pantatnya.
“Dapet?”
“Iya. Nih!” Ia mengangkat satu buku tebal yang sudah robek di sana-sini karena terlalu banyak dipegang manusia ceroboh. Aku heran, badannya yang kecil mungil itu sanggup membawa kemana-mana buku yang kalau ditukarkan dengan abu gosok mungkin bisa untuk kebutuhan satu tahun.
“Ckck..bagus, pasti mau dibawa pulang juga, belajar yang rajin ya. Gw mencium wangi segar nilai ujian gw nih.” Tertawa licik tidak ketinggalan.
“Beres Lin, tp ga nyangka, ternyata lo mau juga jajanin gw seumur hidup”
Kutarik rambutnya yang panjang dan hitam, matanya melotot menahan untuk menjerit.
“Hehe..kirain wig”
Alih-alih serius mendengarkan dosen yang bicaranya seperti orang ngaji di bulan Ramadhan, alias ngebut. Kami ngobrol aja sampai kelas berakhir. (Cat penulis : Adek-adek jangan kaya mereka ya).

xxx

Kelas jam kedua baru saja berakhir. Mahasiswa tumpah ruah di lobi gedung. Dari angkatan tahun kuda sampai mahasiswi berkuncir dua kumpul di sini. Rasanya aku ga akan kebagian oksigen kalau disini terus. Kataku dalam hati berlebihan. Baru saja melangkah dua kali, suara perempuan menjerit memanggil namaku.
“Lindi!”
Kuputar badanku. Helga. Tumben, cari aku. Belum lagi kujawab, ia sudah bicara lagi.
“Ehh..lo mau tau ga?cowo yang gw ceritain kemarin, dia ada di sekitar sini, sekarang!”
Andai aku tega, aku pasti garuk-garuk kepala. Sambil berusaha mengingat-ingat mulutku mendengung menyerupai lalat.
“Eeeeeeeng..”
Mudah-mudahan Helga ga berharap lebih, meskipun kita teman sekelas selama dua semester, tapi kan aku benar-benar ngobrol dengannya baru satu kali. Itu juga kebetulan satu bis bareng. Langsung cerita pribadi pula, gebetan. Ampun. Aku emang pendengar yang baik, tapi dia belum tau, otakku kan suka gagal nyetrum. Untung kali ini tidak.
“Oh ya ya..gw inget. Yang temen SMA lo itu kan?”
“Iya, itu tuh yang pake baju garis-garis coklat. Tuh tuh arah jam 2”Helga bersemangat.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kenapa semua tampak seperti bayangan?Halah, dia belum tau lagi, aku kan rabun.

***

Sejak saat itu, aku dan Helga sering bersama-sama di kampus. Seperti baru menemukan temannya yang hilang, ia langsung lengket denganku. Akupun senang-senang saja punya teman baru. Helga senang bercerita, aku senang mendengarkan. Di kelas sering sekali ia meminta untuk duduk bersebelahan. Aku sama sekali ga keberatan.
Kelas statistik sudah ramai, teman-temanku sudah menempati posisi wenak masing-masing. Kulihat Yaesa duduk sendiri. Di kiri dan kanannya masih tersisa kursi kosong. Kutepuk bahunya, kupilih duduk di sebelah kirinya. Hari ini kuniatkan untuk mengobrol dengan Yaesa lagi, setelah beberapa minggu ini aku disibukkan dengan Helga dan cerita-ceritanya itu. Yaesa tersenyum saja, tanpa meledek. Baru saja ingin mencairkan suasana, aku baru teringat sudah berjanji kepada Helga untuk duduk bersebelahan dengannya. Kutengok sebelah kiriku. Lantai. Ah, tapi aku tahu gimana buat semua orang jadi senang.
“Yaes..duduknya boleh geseran ga?Helga pingin duduk di sebelah gw” Kuamati air mukanya berubah dingin. Lalu ia segera memindahkan semua barangnya termasuk badannya ke kursi lain di seberang ruangan. Sejak itu Yaesa tak pernah membalas sapaku.

[3] yaesa :

“Sial, kenapa bisnya lama banget sih?” gerutuku dalam hati. Sudah seharusnya universitas menambah armada bis kampus untuk memfasilitasi mahasiswa mahasiswa yang kuliah di sini, khususnya yang kere seperti aku.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari cari jarum jarum yang berlarian di pergelangan tangan seseorang. Hal yang sudah biasa aku lakukan mengingat aku tidak memiliki satupun penunjuk waktu.
7.45
Hhhh, sepertinya aku akan terlambat lagi. Andai saja aku nanti tidak harus ke perpustakaan terlebih dahulu untuk meminjam textbook, mungkin masih sempat. Andai juga para kompetitor calon peminjam textbook yang bersaing memperebutkan buku tebal usang denganku jumlahnya sedikit, mungkin aku tidak harus terlambat.

Aku bangkit dari bangku panjang halte yang keras terbuat dari adonan pasir dan semen. Gelisah. Untung tidak sampai 5 menit bis yang aku tunggu akhirnya datang juga.

***

Kelas pertama selesai. Aku segera beranjak menuju perpustakaan untuk mengembalikan textbook yang tadi pagi aku pinjam. Harus bergegas. Kalau tidak akan melayang ongkosku pulang untuk membayar denda keterlambatan.

Sambil melangkah keluar, aku melayangkan pandangan ke seantero ruangan. Mencari seseorang yang sangat akrab dengan hari hariku. Lindi. Tapi mataku tak menemukan siluetnya. Hampir satu bulan ini Lindi seperti berjarak denganku. Entah karena apa.

Sepanjang jalan, kepalaku masih kusempatkan menari nari mencari Lindi. Tapi sampai aku kembali lagi ke Lobi kampus, dia tak kutemukan.

“Von, liat Lindi?” tanyaku pada Vonny, teman sekelasku.

“Sama Helga” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia selalu sibuk mengawasi sekumpulan cowok cowok yang katanya supertampan, seumpama elang yang mengawasi anak ayam.

Dahiku berkerut mendengar jawaban itu. Belakangan ini Lindi memang sering terlihat bersama Helga. Sesuatu yang biasa sebenarnya. Walaupun agak aneh dan membuatku bertanya tanya kenapa tiba tiba dia jadi begitu akrab dengan Helga.Tidak akan begitu aneh seandainya keakraban mereka tidak berimbas pada hilangnya Lindi dari hari hariku.

Tak ada lagi gurauan guraun di tengah kuliah yang membosankan. Lindi jarang sekali duduk bersebelahan denganku. Mungkin karena aku sering terlambat datang. Tak ada lagi tangan jahilnya yang selalu menarik rambut panjangku.Tak ada lagi makan siang bareng usai mata kuliah pertama. Dia selalu menghilang usai aku kembali dari perpustakaan.

Aku rindu kebersamaan kami.Aku kehilangan.

Ku urungkan niatku melangkah ke kantin. Langsung kuarahkan kakiku menuju kelasku berikutnya. Statistik.
Sampai di kelas, aku memilih kursi di barisan tengah. Tidak terlalu depan, juga tidak terlalu belakang. Kuhempaskan pantatku di kursi kampus yang sudah tidak empuk lagi. Ruangan ini masih kosong. Tentu saja. Kuliah masih 1 jam lagi dimulai. Orang orang pasti masih sibuk makan siang.

Sepi. Seandainya ada Lindi di sampingku, pasti tidak akan sesepi ini. Dia pasti dengan semangat empat lima bercerita tentang apa saja. Tak pernah bosan aku mendengar celotehnya. Anak itu sangat kompleks. Pendiam, sekaligus rame. Kekanak kanakan, tapi bisa jadi dewasa. Lucu, tapi bisa serius juga. Dia juga kadang sangat polos. Dan yang terpenting, dia bisa membuatku kembali merasakan berartinya menjadi seorang sahabat. Sesuatu yang sebenarnya aku jera. Setelah pengalaman pengalaman sebelumnya, diabaikan begitu saja oleh sahabat terdekat tanpa tahu apa salahku. Kecuali kalau miskin dianggap sebuah kesalahan, maka aku tahu apa yang salah.

Orang orang mulai berdatangan. Kuusir lamunanku. Ga guna aku memikirkan lagi masa lalu. Lindi tidak seperti itu, tidak seperti sahabat sahabatku dulu. Biarkan saja dia dekat dengan siapapun. Tidak akan jadi masalah selama orang itu tidak membuat Lindi menjauh dari aku. Aku tidak akan dinomor duakan. Aku kenal siapa Lindi.

Pikiranku teralihkan oleh tepukan dibahuku. Aku menoleh. Lindi. Dia tersenyum.

“Tuh kan, dia masih tetap Lindi sahabatku.” gemaku dalam hati. Wah, kuliah kali ini pasti tidak akan membosankan. Its gonna be a great class. Terbayang sudah keriangan hari ini.

“Yaesa, you owe her apology. For questioning her existency as your bestfriend.” ucapku dalam hati.Aku masih diliputi kegembiraan.

“Yaes..duduknya boleh geseran ga?Helga pingin duduk di sebelah gw”

Aku terdiam. Aku kalah.

Seumpama seorang juara yang dibatalkan kemenangannya.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.